Review Happy Diapers


Kali ini adalah review dari salah satu diaper yang pernah dipakai Rehan. Kapan-kapan review semuanya deh, tapi sekarang review salah satunya dulu. Tau merk ini dari salah satu selebgram bayi, tapi lupa siapa. Begitu tahu ada freetrial, langsung la daftar. Aku cinta gratisan!

Iya sih free trial, kita ga bayar popoknya, tinggal bayar ongkirnya aja, 20ribu rupiah. Mungkin ribetnya cuma di pembayaran, harus pakai kartu kredit. Paket dari Happy Diapers datang saat aku dan Rehan sedang di luar kota, jadinya ya telat nyebar link & telat nyobain. 

Read more

Review BabyElle Wave

Desember kemaren pulang ke Kediri, sengaja ga bawa stroller karena stroller yang ada ukurannya geday pisan walaupun udah dilipat. Niatnya sih mo sewa Pockit aja di rental stroller lokal. Eh ternyata, strollernya ga ada yang ready. Harusnya booking dari lama sih ya.

Read more

Journal Perth (Part 3)

Ini adalah series terakhir dari Journal Perth. Maaf ya kalau terlalu banyak & panjang. Di part 3 ini akan lebih mengulas tentang hati ketiga, kami berkunjung ke sebuah desa di pinggiran Perth, Swan Valley, & sedikit tentang kepulangan ke Indonesia.

Sebelum tour dimulai, kami sengaja sarapan lebih awal agar bisa jalan-jalan di sekitar hotel. Hari itu lumayan sepi, karena memang hari libur. Masih ingat kan kalau hotel kami itu ada di CBD. Banyak bangunan-bangunan tua yang instagram-able, tapi ya emang kemampuan foto yang ecek-ecek, foto ya cuma ala kadarnya.

Kesannya suram
Bekas universitas
Ini apa ya?

Binatang, Cokelat, & Makan Siang

Tour dimulai, tujuan pertama kami adalah Caversham Wildlife Park. Semacam kebun binatang, tapi isinya hewan-hewan khas Australia. Kalau kalian mau cari singa atau macam ga bakalan nemu disini. Pertama kami diperlihatkan aneka unggas, marmut, kelinci, dll. Untuk anak dibawah 5 tahun boleh masuk ke dalam kandang untuk pegang-pegang kelinci lo.

Show nya belum mulai
Memberi makan kanguru
I don’t give a F
Majestic AF

Setelah itu kami menonton show pemotongan bulu domba & memberi susu untuk anak domba. Shownya bagus, MC nya kocak & informatif. Setelah show berakhir, kami pergi ke area lain untuk melihat & memegang koala, kanguru, & wombat, serta melihat beberapa hewan lain. Aku sih ga berani pegang, geli. Cukup suami aja yang pegang kanguru, hehehe.

Selesai dari kebun binatang, kami pergi ke sentra pembuatan coklat, tempatnya ke tokonya sih, Margaret River Chocolate. Hepi banget lah disini, soalnya kami bebas ambil sampel coklat. Ohemji, coklatnya enak bangets. Coklat bentuk keping kecil-kecil aja enak apalagi yang fancy. Menurutku, yang rekomen adalah Dark Chocolate coat Almond Nougat. Tapi yo ono rego ono rupo, coklatnya mihil. Tapi ga nyesel kok beli disini.

Kalau makan siang, kami makan local food di Valley View Restaurant. Aku ga familiar sama menu nya, yang aku tahu cuma salad. Yang rekomen Pan Fried Fish. Kalau yang lainnya aku kurang suka & ada yang memang ga aku coba. Sebenarnya aku menunggu dessert, tapi tak kunjung diantar, & itu cuma mejaku doang. Kan kzl πŸ˜”

Wine Tasting, Shopping, & Eating Dinner

Setelah makan siang, kami menuju ke salah satu tempat ikonik Australia, winery. Wine Australia memang salah satu yang terbaik, katanya. Kami pergi ke Sandalford Winery. Tempatnya sangat luas & pemandangannya bagus, mirip dengan wallpaper Windows.

Wallpaper Windows
Gelas Gelas Kaca, untuk wine tasting
Cantik! Ada yang mau nikah

Disini setelah diberi info mengenai wine & produk-produk dari Sandalford Winery, yang boleh minum wine bisa ikut wine tasting. Kemudian khusus peserta tour , dapat diskon 20% kalau beli wine disini. Kami, yang muslim, cukup dengar info tentang wine aja untuk menambah pengetahuan, Knowledge is power. Abis itu foto-foto deh.

Setelah dari winery, kami langsung menuju Perth untuk berbelanja di mol lokal, Watertown Branded Outlet. Kami juga dikejar waktu soalnya hari ini bukan hari jumat dan mol pun tutup jam 5. Lumayan lah, disini dapat dompet merk lokal dengan diskon yang cukup gede. Maklum, dompet Charles Keith yang beli 2 tahun lalu udah mbruduli.

Pingin beli disini, tapi kok jualan bacon πŸ˜”

Setelah dari mol, kami bergegas untuk makan malam. Kembali makan Chinese Food. Menunya mirip dengan hari pertama, cuma plusnya, ada Bebek Peking, yes! At least ga makan tumis kailan doang.

Satu lagi, kami tidak menjumpai satupun gerai Starbucks, baik itu di mal maupun di bandara. Setelah cek di Foursquare, ternyata ada 1 gerai Starbucks di Perth, tapi adanya 1 jam perjalanan dari hotel tempat kami menginap & jauh dari mana-mana. Jadi kalau ada yang nitip Tumbler Starbucks, maaf kami ga bisa beliin.

Pulang ke Indonesia

Kami pulang ke Indonesia dengan pesawat yang paling pagi. Kali ini kami transit dulu di Bali, baru kemudian melanjutkan ke Jakarta. Lumayan lah ya, di Bali bisa beli Pai Susu dulu. Nyesel deh cuma beli sedikit, gapapa deh soalnya beli di bandara, harganya cukup mahal. Oia, penerbangan Perth-Denpasar menggunakan pesawat Airbus 330, yang bangku nya 2-4-2. Aku katro, biasanya naik yang bangku nya 3-3. In flight meal nya juga enak. So far Garuda memuaskan. Cuma, beda banget naik international flight & domestic flight. Dari segi kenyamanan pesawat & proper meal nya. Entah kenapa aku merasa, yang international flight, jauh lebih nyaman. Mungkin cuma perasaanku doang.

Tiket pulang kampung
Landasan pacu & Garuda
Dimuat-muatin di koper
 

Cukup sekian catatan perjalanan saya yang ala-ala ini. Maaf kalau terlalu panjang & terlalu banyak gambar serta makan bandwidth. Kalau ada pertanyaan, boleh lo tanya-tanya. Semoga saya bisa jawabnya. Doain ya, semoga bisa ke luar negeri haratis lagi. Hehehe

Thanks

Reli

Journal Perth (Part 2)

Beware of long post and a lot of pic

Lanjutan dari post kemarin, lanjut ke hari kedua. Kali ini temanya masih city tour. Hari tujuannya ke Kings Park & Botanic Garden dan Fremantle. Padahal capek perjalanan kemarin masih ada lo, tapi udah jalan lagi. Kalo pake tour emang beda ya, acaranya padat & harus disiplin. Hehehe. Jarang banget sih jalan-jalan yang pake tour, dulu banget pernah ikutan Tour Kresek & Tour AB πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Kings Park & Botanic Garden

Pemandangan Perth dari Kings Park & Botanic Garden

Membutuhkan kira-kira 15-30 menit dari Hotel. Kings Park & Botanic Garden itu semacam memorial park & botanical garden jadi satu. Di satu sisi ada pemakaman, monumen, & patung Presiden Australia pertama. Di sisi lain ada botanical garden yang berisi macam-macam tumbuhan endemik Australia. Di taman ini juga, kita juga bisa melihat pemandangan kota Perth.

Semak-semak gurun
Pohon Baoba, batangnya gendut rantingnya kurus
Tall Mulla Mulla, ungu mirip Lavender
Salah satu sudut di Botanic Garden
Itu buah atau biji ya? Bentuknya aneh
 

Australia memang negara dengan empat musim, tapi khusus Western Australia, cuma ada 2 musim yaitu musim panas & musim dingin. Mungkin karena sebagian besar wilayah disini adalah gurun. Jadi saat kita di Perth, cuacanya mirip dengan cuaca Bali tapi rasa gurun. Kalau panas-panasan disini sih ga terlalu keringetan, tapi langsung gosong.

Swan River, pemandangan dari Glass Bridge

Kings Park & Botanic Garden itu bersih banget. Nyaman banget lah kalau main disini. Kids & Pet friendly. Pantesan banyak penduduk lokal yang piknik disini sambil bawa anak & piaraannya. Jadi pingin pindah kesana, hahaha.

Lunch & Shop at Fremantle

Katanya tour guide sih, Fremantle itu dulunya adalah salah satu lokasi penjara, dimana kriminal-kriminal Inggris jaman dulu dibuang, semacam Nusa Kambangan nya Inggris lah. Tapi itu dulu, sekarang Fremantle udah jadi kota pelabuhan yang cukup sibuk.

Stasiun Fremantle

Setelah dari Kings Park & Botanic Garden, kami langsung menuju Fremantle untuk makan siang & berbelanja di weekend market. Saat perjalanan menuju Freemantle, kami melewati pantai di dekat Perth, Cottesloe Beach. Pantai ini langsung menghadap ke Samudra Hindia, kayak pantai-pantai di selatan Pulau Jawa lah. Tapi bedanya, pasirnya sempit dan ombaknya kecil. Bagusan pantai Indonesia lah, pantesan Bali penuh sama bule Australi πŸ˜‚

Cicerello’s Fish n Chips, porsinya naujubillah
Dari lantai 2 Cicerello’s
 

Kami makan siang di Cicerello’s. Katanya sih makan Local Food, eh ternyata Fish n Chips yang porsinya naujubilah. Kirain itu porsi untuk 2 orang. Bule mah porsinya beda ya πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Selama menunggu makanan, ternyata banyak banget orang Indonesia disini. Saking banyaknya sampe-sampe Perth itu ga kaya di luar negeri karena banyak banget wajah familiar.

Fremantle Weekend Market

Setelah makan siang, kami langsung capcus ke Fremantle Weekend Market yang cuma buka tiap weekend. Terus aku lupa untuk memfoto bagian dalam pasar. Disini ada banyak barang yang dijual, seperti souvenir khas Australia, skincare khas Australia, buah-buahan, makanan, sampai ada yang jual kursi angin. Disini kami beli souvenir, buah, & honeycomb. Mayan lah ya, ga mahal-mahal amat.

Captain Cook Cruises

Setelah makan & belanja, waktunya kembali ke Perth. Kali ini kembali ke Perth tidak menggunakan bus, tapi naik kapal. Kita naik kapal ke Perth melintasi Swan River.

Boarding Pass, semua sudah pasti dapat duduk
Swan River
 

Perjalanan ditempuh dalam waktu 1 jam. Menurutku, biasa aja sih. Cuma saat kami naik kapal, surprisingly sungainya ga bau lo. Kadang kalau naik kapal di Indonesia, baik di danau, sungai, atau laut, pasti bau amis. Kenapa ya?

Tourist Stop
Souvenir shop yang sudah tutup karena sudah jam 5

Kapal berlabuh di Barrack St Jetty, salah satu Tourist Spot. Setelah waktu bebas disini kurang lebih 20 menit, kami menuju ke bus untuk makan malam.

Thai Food & Perth Mosque

Makan malam kali ini adalah Thai Food, Bangkok on William. Dari serangkaian menu yang disajikan disini, yang paling mantep adalah Tom Yum & Telur Dadar nya. Yang lain meh, apalagi menu daging nya, ada rasa sangit-sangitnya gitu. Kali aja mereka lagi zonk, semoga lain kali ga gitu.

Perth Mosque, masuknya lewat pintu belakang
Ternyata restoran ini ada di dekatnya Masjid Perth, alhamdulillah suami bisa sholat magrib disitu walaupun udah telat kalau mau iku yang jamaah. FYI, ada orang yang aku kira Imam Masjid di Perth itu, bisa bahasa Indonesia, wow. Terus ketemu orang Buah Batu yang dari SMA udah di Perth. Terasa sekali lah persaudaraan disini.

Setelah makan malam, kami kembali ke hotel. Mumpung ini hari jumat & toko-toko tutup jam 9 malam, kami putuskan untuk jalan-jalan di CBD Perth. Entah kenapa kami masuk ke toko souvenir lagi. Masuk ke toko souvenir itu adalah ide buruk, karena kami getun, kzl, harganya lebih murah dari Fremantle Market. Aku lupa nama tokonya, toko ini ada di dekat perempatan Murray St, dekat David Jones. Kalau ga salah tokonya 24 jam.

Selain itu kami ke supermarket lokal, Woolworth. Iseng aja beli coklat kecil-kecil yang harganya cukup terjangkau. Disini kami katro, karena bayarnya self service. Keren banget tapi engga manusiawi, karena ga ada kasir. 

Sekian perjalanan hari kedua di Perth, sorry for long post

Thanks

Reli

Asli atau Palsu? Claire’s Guerisson 9-complexΒ 

Awalnya aku iseng ikut Auction di Qoo10 Indonesia. Eh, akhirnya dapet juga dengan harga 72000 rupiah. Kok murah banget ya? Aku curiga, takut kalau itu palsu. Kan kalau palsu, lumayan 72000 melayang. Deg-deg ser aja sih pas barangnya datang, ga langsung aku coba, tapi aku compare dulu lah sama yang asli (hasil blogwalking juga). Aku compare dari blog ini ya

Kemasan Karton

Logo Guerisson 9-complex
Segel transparan pada kanan & kiri kemasan, segelnya aku buka sendiri
Tampak atas
Tampak bawah, ada logo hologram Honey Lee, tapi logonya miring
 

Katanya kalau kemasan palsu, kartonnya ringkih & mudah peyot. Tapi yang aku beli ini, kemasannya cukup kuat. Ada segel. Kertas karton nya berserat & terlihat seperti asli. Di bagian bawah kemasan ada logo hologram Honey Lee, itu adalah hidden tag untuk mengecek keaslian produk. Cara cek nya, nanti akan aku tulis di bawah.

Kemasan Jar

Kemasan jar Guerisson 9-complex
Segel di dalam jar, mirip dengan yang asli, tapi kertasnya lebih tipis
Ada exp date. Emboss pada jar sama. Hanya saja font nya tidak bold
Penempelan label kurang rapi
 

Hologram Claire’s

Untuk kemasan jar, jar produk ini terbuat dari kaca. Di bagian samping ada logo hologram bertuliskan Claire’s. Di kemasan bagian bawah ada expired date. Dan segelnya pun terlihat sama dengan yang asli. 

Isi Jar

Guerisson 9-complex yang asli, memiliki tekstur yang pekat & seperti balsam (buttery smooth & thick), memiliki wewangian seperti lemon zesty atau semacam citrus. Jika dipakaikan ke kulit wajah, rasanya akan berminyak. 

Ternyata teksturnya berbeda dengan yang asli
Tekstur yang asli
 

Setelah aku buka kemasannya, ternyata teksturnya beda. Seharusnya, tekstur nya seperti balsam, tapi ternyata seperti krim & lebih encer. Wanginya pun bukan wangi lemon zest

Cara cek keaslian produk

  1. Cari di AppStore dengan keyword Claire’s
  2. Disana kalian akan menemukan aplikasi pertama yang bernama HiddenTag C.O.P
  3. Install aplikasi & cek keaslian produk mu
Hasil search di AppStore

Hasil dari aplikasi

Jangan salah fokus ke Kwang Soo ya. Warning, disini saya semakin yakin πŸ˜”

Simpulan

Dilihat dari segi tekstur, penempelan label, font pada label bawah, dan cek keaslian produk, produk ini saya nyatakan PALSU. Rugi 72000 gapapa, yang penting muka ga makin rusak huhuhu. Muka cuma satu, hati-hati ya kalau mau beli skincare, jangan tergiur harga murah. Kalau dapat harga murah, selalu cek & ricek apakah produk tersebut asli atau palsu. Selalu beli di situs resmi seperti Althea atau Hermo, beli di marketplace kadang-kadang memang meragukan.

Thanks

Reli

Journal Perth (Part 1)


Mumpung masih anget tour-nya, jadi harus segera ditulis ni, biar ga malas! Ini pertama kalinya aku ke luar negeri lo (tepuk tangan πŸ‘πŸ‘πŸ‘). Kemana sih kok heboh banget sampe harus tepuk tangan? Ke Ostrali lo, ke Perth, ke negara bulek. Seneng? Yang pasti iya, makin seneng soalnya (Alhamdulillah) ini free, ayo tepuk tangan lagi πŸ‘πŸ‘πŸ‘.

Day 1, Bandara – Dinner – Hotel

Berangkat dari Jakarta (CGK) ke Perth dengan penerbangan langsung Garuda Indonesia. I’m impressed, aku terharu Garuda pelayanannya OK banget. In flight meal nya juga cukup enak kok. Aku puas naik Garuda, hahaha.

Paspor & tiket Jakarta-Perth
Alhamdulillah, perdana naik Garuda
 

Perjalanan Jakarta-Perth makan waktu kira-kira 4-5 jam. Perth 1 jam lebih cepat dari Jakarta (WIB), jadi intinya waktu di Perth sama kayak WITA. Cepet banget ya cuma 4 jam-an. Ya emang negara bule paling deket sama Indonesia ya sini ini. Hehehe.

Sesampainya di bandara Perth, aku kagum sama keamanan Custom nya. Bener-bener ketat & bener-bener diperiksa. Petugasnya ramah & tegas. Terus bandaranya canggih, aku katro. Prosesnya serba cepat & ngga lelet. 

Salah satu sudut bandara

Salah satu cultural shock yang bikin aku ga nyaman adalah ketika nyobain toilet di bandara (& semua toilet di Perth), karena ga pakai air buat cebok. Ya, engga bersih aja gitu. Terus kata suamiku, tempat pipis di toilet cowo itu engga private, engga enak gitu. Dan ga ada janitor, jadi toilet cowo agak pesing-pesing gimana gitu. Entah di toilet itu doang atau toilet lain juga. Udah itu aja cerita tentang toiletnya.

Kalau soal pemakaian telpon & internet di Australia, aku dan suami tetep pake Telkomsel. Ada paket data aja & paket 3in1, aku mah cuma butuh paket data. 5 hari 375ribu rupiah, mahal hiks. Di bandara ada yg jual kartu perdana kok, ada Vodafone & Optus. Kalau ga salah, Vodafone lagi diskon, 8GB harganya 20AUD, normalnya 30AUD. Tapi kalo malas lepas pasang SIM card, mending tetep pake yg paketan roaming internasional deh.

Taxi nya lucu

Setelah dari bandara, rombongan langsung ke kota Perth untuk dinner. Perjalanan kira-kira cuma 30 menit. Dan kami makan di daerah Northbridge, Royal Seafood Restaurant, Chinese Food. Makanannya? Ya gitu deh, not my liking tapi masih bisa dimakan lah (ga bakal komentar banyak soalnya bukan review restoran).

Salah satu sudut Northbridge
The Northbridge Coffee Roasters, yang udah tutup karena udah lewat jam 5 sore
 

Selesai makan, kami harus jalan kaki menuju bus, karena bus (dan kendaraan lain) ga bisa parkir sembarangan. Lumayan lah ya, bisa lihat-lihat Northbridge saat senja. Bangunannya mostly bagus, bergaya western vintage, taman bagus & terawat. Cuma kebanyakan toko udah tutup pas jam 5 sore… kecuali hari jumat, kalau hari jumat, toko-toko tutup jam 9 malam. Kota besar rasa kota kecil.

Lobby Kings Perth Hotel

Setelah sampai ke bus, kami segera ke hotel. Hotel tempat kami menginap adalah Kings Perth Hotel. Mayan lah bintang tiga. Hotelnya ada di Perth CBD, pas tengah kota. Kesan pertama adalah hotelnya vintage & homey. Kasurnya nyaman, AC nya dingin, percis kamar-kamar di film Amrik tahun 80an. Sayang aja lupa foto kamarnya, malu juga soalnya kamar selalu berantakan πŸ™ˆ

Bersambung ya, masih ada hari kedua & ketiga…

Thanks

Reli